Penyerahan Penghargaan kepada Siswa/i Berprestasi: Asisi adalah Komunitas yang Unggul, Kasih dan Peduli 

 

Sekolah Asisi – Setiap tahun, sekolah Asisi selalu memberikan apresiasi kepada siswa-siswi yang meraih lulusan terbaik. Ini merupakan salah satu cara sekolah Asisi membangkitkan semangat belajar anak-anak, mendorong mereka agar bisa berprestasi. Apresiasi itu juga merupakan salah satu ungkapan dari semangat Asisi sebagai komunitas yang unggul, kasih dan peduli.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan St. Fransiskus Asisi, Pastor Alfred Dino OFM Cap, menegaskan bahwa unggul, kasih dan peduli merupakan jiwa yang menggerakan seluruh aktivitas dalam sekolah Asisi, mulai dari TK sampai SMA dan SMK. Dengan semangat itulah sekolah Asisi mendidik anak-anak supaya mereka juga menjadi pribadi yang unggul, kasih dan peduli. 

“Asisi adalah komunitas yang Unggul, Kasih dan Peduli. Karena itu pada hari ini saya ingin menyampaikan tiga hal ini, yakni unggul, kasih dan peduli. Unggul dalam intelektual. Hari ini, siswa/i dari SD sampai SMA dan SMK. Kalian memperoleh nilai yang terbaik. Karena itu, Yayasan memberikan penghargaan kepada kalian karena kalian unggul secara intelektual. Namun rupanya unggul secara intelektual belum tentu bisa berhasil dalam hidup. Karena itu kita punya kekuatan yang kedua adalah kasih. Untuk anak-anak didik, tanamkanlah selalu kasih yang sempurna dalam hatimu,” tegas pastor Alfred dalam sambutannya ketika memberikan penghargaan kepada siswa-siswi berprestasi Sekolah Asisi tahun ajaran 2019/2020 pada Sabtu, (22/8/20) di Gereja Asisi, Tebet, Jakarta Selatan.

“Kasih itulah yang memampukan kalian untuk berjalan dengan lebih baik. Kasih itu memampukan kalian untuk mencintai orang lain menjadi lebih baik. Karena itu boleh unggul secara intelektual tapi kalau kasih tidak sempurna maka akan menjadi sia-sia. Karena itu teman-teman, kalian mendapatkan nilai yang terbaik, ingatlah kalian sudah dididik di Sekolah Asisi, kembangkan selalu kasih yang sempurna di dalam hatimu supaya kalian menjadi anak-anak yang hebat,” tegasnya lagi.

Nilai unggul dan kasih juga menjadi tidak berguna, kata Pastor Alfred OFM Cap lebih lanjut, kalau tidak peduli pada orang lain. Karena itu ketiganya harus berjalan bersama. Dengan membawa tiga semangat itu maka anak-anak itu akan menjadi anak-anak yang hebat. Dan itu akan membanggakan Sekolah Asisi.

“Saya yakin kalau kalian membawa semangat itu maka saya akan mendengar,’Romo, itu anak yang Sekolah di Asisi sangat hebat.’ Kebanggaan itu menjadi kebanggaan kami, para pengurus, Kepala Sekolah dan para guru. Hari ini, orang tua senang, kami juga ikut senang karena kami telah mengambil bagian dalam proses pendidikan di Asisi. Jadi selamat untuk teman-teman (anak-anak) yang meraih nilai yang terbaik,” tegasnya.

Sedangkan, Pastor Damian sebagai ketua Pembina Yayasan St. Fransiskus Asisi, dalam sambutannya, merenungkan peran guru sama seperti Yohanes Pembaptis. Ia selalu berkata dengan menunjuk pada Yesus, “biarlah Ia semakin besar dan aku semakin kecil.” Spiritualitas ini sebenarnya awal dari segala kebangkitan dan kebesaran serta kejayaan dari suatu bangsa.

Para guru, baginya, seperti  timbangan para penjual emas. Meskipun tidak seberapa harga timbangan itu dan emas tetap lebih mahal tetapi orang sulit menentukan harga emas itu dengan tepat dan sama-sama memuaskan karena dua-duanya diuntungkan. Dan semakin timbangan itu berkualitas maka semua pihak akan puas. Memang para guru adalah penentu kualitas anak-anak.

Pastor Paroki Fransiskus Tebet ini juga memaknai peristiwa tersebut sebagai gambaran perjalanan yang sudah dilalui dan juga masa depan.

“Masa yang sudah kita lalui tercermin pada kebersihan lingkungan, dengan tertibnya tata pelayanan di lingkuangan sekolah kita, serta klinik Pratama. Dan bagaimana anak-anak bisa bertumbuh dengan baik. Salah satu indikatornya adalah prestasi ilmiah yang mereka capai. Tentu kita berhadap prestasi mereka ini berjalan seiringan dengan kepribadian. Karena biasanya anak pintar kalau kepribadiannya kurang baik juga sulit optimal. Maka saya berharap kedua-duanya bisa berjalan pararel,” tegasnya.

“Peristiwa hari ini juga,” katanya lagi, “kurang lebih menjadi bayang-bayang apa yang kita wujudkan. Pertama, dari prestasi yang kita capai. Kita dapat mengevaluasi diri, ternyata kita mampu. Kita dapat mengelola potensi yang yang ada di Yayasan ini. Dari peristiwa hari ini juga kita menjadi lebih lapang, lebih percaya diri untuk berjalan di hari-hari mendatang,” katanya lagi.

Di akhir sambutanya, Pastor Damian mengajak para guru dan semua pengurus Yayasan serta para orang tua untuk bekerja sama untuk membangun Sekolah Asisi menjadi lebih baik dari hari ke hari.

“Saya mengajak kita semua, baik Pembina, Pengawas dan Pengurus lalu orang tua murid dan tentunya semua karyawan, guru dan anak-anak untuk bersama-sama mematahkan mitos “bosan”. Ini harus kita perangi. Tidak boleh di hari-hari mendatang, agak spontan mengatakan anak saya akan bosan karena sudah sekian tahun berada di Asisi.”

“Kita harus mulai merintis sesuatu usaha yang terstruktur dan harus terukur untuk menciptakan segala kondisi di persekolahan ini yang nyaman. Kita sebenaranya sudah punya dasar hal itu, yaitu be a brother for all. Kita mau menjadikan Yayasan ini sebagai rumah kita, kita mau berperilaku dan melihat satu sama lain sebagai saudara kita. Kita mempunyai keunggulan untuk mencapai hal ini. Pertama kompleks yang luas dan juga sarana yang lengkap serta lingkungan yang alam. Tinggal kita memberikan sentuhan-sentuhan, yang memang membuat anak-anak didik di sini dan semua karyawan selalu merasa rindu untuk kembali ke sekolah.”

Dan Bapak Aritonang, mewakili para orang tua menyampaikan terima kasih kepada Sekolah Asisi yang telah mendidik anak-anak dengan nilai-nilai religius.

“Saya berterima kasih kepada sekolah Asisi yang telah menanamkan nilai-nilai religius dalam pelaksanaan sekolah ini. Banyak hal yang sudah saya lihat, gedung sekolah semakin baik dan juga bagaimana anak-anak didekati secara pribadi, dengan program unggul, kasih dan peduli. Kita berharap itu akan terus berjalan. Dan sekolah ini bisa sungguh menjadi ‘be a brother of all,” ungkapnya dengan penuh bangga.

Unit SD    

 

Peringkat 1 Azalia Phoebe Larasati

Peringkat 2

 Janice Madeleine
 Peringkat 3 Benedict Eliyah Maringan Sinaga
Carissa Duma Sianturi
     
UNIT SMP   Peringkat 1

Catherine Putri Perwira
Peringkat 2

Ferina Josephine Timour Manalu
Peringkat 3

 Maria Prawitya Dasarati
     
Unit SMK  Peringkat 1 Teknik Komputer Jaringan Krisantus Agung Pradana
Peringkat 1 Akuntansi Sheren Jesslyn
 

 
Unit SMA  Peringkat 1 IPA Clara Nikita Br Aritonang
Peringkat 1 IPS Viska Febio

(Dino-ICT)