Perayaan Ekaristi Pembukaan Tahun Ajaran 2020/2021 : Sekolah Asisi menjadi Taman yang menumbuhkan Biji Sesawi yang besar

 

Untuk mengawali setiap tahun ajaran baru, sekolah Asisi, Tebet Jakarta Selatan selalu membukanya dengan perayaan Ekaristi untuk memohon pertolongan Tuhan bagi seluruh proses belajar mengajar selama satu tahun ke depan. Namun karena situasi Pandemi Covid-19 yang tidak mengizinkan adanya kegiatan berkumpul sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, maka perayaan Ekaristi awal tahun ajaran baru sekolah asisi, tahun 2020/2021 tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kali ini, perayaan Ekaristi awal tahun ajaran baru hanya dihadiri oleh beberapa guru, dengan tetap mengikuti protokol pemerintah untuk tetap menjaga jarak, di Gereja St. Fransiskus Asisi, Tebet, Jakarta Selatan.  Sedangkan siswa-siswi dan orang tua murid hanya bisa mengikuti melalui live streaming di channel youtube Asisi Live, pada pukul 09.00 WIB, Senin, 27 Juli 2020.

Perayaan Ekaristi ini dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan, Pastor Alfred Dino, OFM Cap, dan didampingi oleh Pastor paroki St. Fransiskus Asisi, Pastor Damian Doreman, OFM Cap dan Pastor Robertus Bellarminus, OFM Cap.

Dalam homilinya, Pastor Damian OFM Cap mengangkat sebuah kisah menarik tentang makna dan fungsi dari ikat pinggang. Beliau menceritakan bahwa pada pertengahan tahun 1980-an yang lalu, dia pernah melihat seseorang yang kesulitan dengan celananya karena mengidap diabet. Karena penyakit tersebut, katanya lagi, orang tersebut, dalam waktu yang singkat, berat badanya menjadi turun dan kurus sehingga ikat pinggangnya harus selalu disesuaikan dengan badannya. Namun pada saat itu, orang masih sulit mendapatkan ikat pinggang, apa lagi di pedalaman. Karena situasi tersebut, orang tersebut akhirnya menggunakan ikat pinggang dari kulit kayu. Tetapi walaupun dari kulit kayu, ikat pinggang itu tetap membuat orang tersebut merasa nyaman dan percaya diri.

 “Ikat pinggang itu, entah bahannya dari apa pun tetapi fungsinya tetap sama, untuk membuat kenyamanan dalam berpakaian sehingga lebih leluasa bergerak dan enak bertindak serta tampil percaya diri. Betapa susah kalau kita tidak punya ikat pinggang, celana bisa melorot dan itu bisa menjadi bahan tertawaan orang lain. Ikat pinggang itu menjadi kebutuhan pokok dalam berpakaian,” ungkap Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Tebet ini.

Pastor Damian OFM Cap kemudian mengutip kisah Yeremia yang menggunakan ikat pinggang itu untuk menjelaskan hubungan Allah dengan Jemaat-Nya.

“Hubungan antara Allah dengan jemaatnya dikiaskan oleh Yeremia dengan ikat pinggang. Yang membuat hidup seseorang menjadi nyaman, sejauh ia punya hubungan dekat dengan Tuhan,” katanya lagi.

Dengan demikian, pastor paroki Tebet ini mengajak civitas academica Asisi agar bisa menjadi ikat pinggang yang dapat berguna.

“Ikat pinggang akan punya nilai sejauh ia dipakai karena di sana akan tampak fungsinya, manfaatnya dan faedahnya. Maka berkenan dengan firman ini, kita dapat melihat bahwa kita menjadi sangat berarti sejauh kita juga ikhlas menjalani setiap profesi kita. Para guru dan karyawan di Asisi dapat memperhatikan sifat atau fungsi dari ikat pinggang itu dengan, misalnya lebih dekat dengan satu sama lain, kita ini, walaupun belum sempurna terwujud tetapi itu impian kita. Kita berjuang untuk mewujudkan satu komunitas Pendidikan yang menjadi saudara bagi satu sama lain,” tegasnya.

Kedekatan mengandaikan perjumpaan, katanya lagi, tetapi kedekatan juga dapat kita bangun secara rohani dengan saling menghargai, saling mendukung, dan saling menghormati. Seorang guru akan berfungsi secara sempurna seperti ikat pinggang sejauh ia menjalankan profesinya secara professional, penuh dedikasi dan cinta pada tugas tersebut. Kita dapat menjadi seperti ikat pinggang bagi satu sama lain dan juga bagi para siswa-siswi kita, yang menimbulkan suasana hangat, dekat, kompak dan saling mencintai dan akhirnya kita juga saling membutuhkan.

Selain itu juga, Pastor Damian OFM Cap makna Kerajaan Allah yang digambarkan dalam Injil biji sesawi dan ragi.  “Ada entitas, yaitu biji dan ragi. Ada kualitas, yaitu biji yang bermutu akan tumbuh menjadi pohon yang bermutu. Ragi yang bagus akan mengubah adonan menjadi makanan menjadi lezat,” tegas Pastor Damian OFM Cap.

“Dulu, persekolahan Asisi juga dapat diibaratkan dengan biji sesawi. Tetapi kita punya biji sesawi yang bukan sembarang biji sesawi tetapi biji sesawi terpilih, bukan oleh pelaku sejarah waktu itu tetapi dipilih oleh Allah sendiri. Bukan kebetulan, bukan karena dari kepintaran manusia terutama para misionaris yang memilih tempat ini, tetapi Allah yang menunjukkan lahan ini menjadi taman Asisi, menjadi lahan untuk biji sesawi yang akan tumbuh besar. Kini kita tetap melihat sekolah Asisi tetap berkibar, tetap berkobar, tetap mengembirakan dan punya prospek yang bagus,” tegasnya.

(Penulis : Albertus Dino)